Pendidikan Multikultural

Reinvensi Dan Kontribusi Antropologi Untuk Pendidikan

Dwi Putro Sulaksono [1]

 

Dalam konteks kebudayaan maka pemikiran multikultural lebih ditempatkan ke dalam tema-tema kebudayaan nasional sebagai pembentuk karakter budaya bangsa di dalam hidup berdampingan dengan kebudayaan bangsa-bangsa yang lainnya. Dimensi pemikiran multikultural harus terbebas dari paham-paham etnosentrisme dan ikatan-ikatan primordial suku-suku bangsa serta sifat kedaerahan. Karakter kepribadian bangsa yang muncul sebagai representasi dari puncak-puncak ethos kebudayaan dapat dipahami dari cara berpikir positivis yang cenderung beranggapan bahwa watak dan karakter bangsa lebih ditentukan oleh otoritas dan kepemimpinan negara. Otoritas lebih ditempatkan di atas potensi diri manusia – berbeda dengan cara berpikir konstruktif yang beranggapan bahwa kepribadian bangsa  sebenarnya lebih ditentukan oleh adat-istiadat dan tradisi yang dipedomani oleh setiap individu di dalam berinteraksi dan berhubungan dengan sistem sosial-budayanya, terutama di dalam dimensi global yang telah mempengaruhi berbagai aspek perilaku budaya. Dalam skala hubungan multidimensional maka setiap perilaku budaya sebaiknya lebih mengutamakan kepada cara-cara berpikir konstruktif di dalam membangun hubungan melalui kemitraan antar-bangsa. Paham-paham multikultural lebih menonjolkan sikap kebebasan berekspresi di dalam merefleksikan pandangan-pandangan hidup dan ideologi yang lebih mengarah kepada tujuan hidup berbangsa dan bernegara.

Hubungan kemitraan di dalam bidang-bidang pendidikan, sosial-budaya, tradisi, dan ekonomi biasanya lebih didasari kepada cara-cara hidup berdampingan di antara satu bangsa dengan bangsa yang lainnya sehingga perasaan kebudayaan yang dijumpai lebih mengutamakan pada kesamaan nilai di dalam menjunjung harkat hidup (equality) di antara bangsa-bangsa. Bentuk kemitraan dalam hubungan multikultural juga sering lebih mengutamakan kepada prinsip-prinsip kebebasan (freedom) dan kebersamaan (unity) dalam maksud-maksud tujuan lebih menjalin keharmonisan hidup bersama. Dalam hubungan kebersamaan antar bangsa Asia dan Eropa misalnya, maka peranan sebagai ‘endoncers’ diperlukan di dalam memperkenalkan unsur-unsur kebudayaan dan tradisi. Peranan yang biasanya dilakukan oleh duta-duta bangsa dalam bidang kemitraan komprehensif sering dilakukan melalui bentuk pertukaran kebudayaan melalui berbagai slogan mempromosikan produk kebudayaan yang dapat meningkatkan hubungan ekonomi multilateral. Dalam pergaulan bersama untuk meningkatkan harkat hidup di antara bangsa-bangsa tersebut sikap saling menghargai dan menghormati (mutual respected) juga dilakukan dengan lebih menekankan kepada hubungan multikultural dengan cara merepresentasikan simbol-simbol pemersatu bangsa Bhineka Tunggal Ika sebagai semangat di dalam solidaritas hubungan tersebut.

Berbeda dengan konteks kebudayaan yang dipahami ke dalam bentuk pluralisme kebudayaan, keberagaman budaya lebih dipahami ke dalam stratifikasi sosial masyarakat melalui sistem sosial dalam membentuk perilaku hidup dari komunitas dan golongan sosial yang cenderung lebih merefleksikan sifat origin pada bagian inheren yang terkandung di dalam kepribadian suku-bangsa tersebut. Aspek perilaku budaya yang demikian biasanya lebih cenderung menonjolkan sifat-sifat kesuku-bangsaan (etnisitas) di dalam mengakomodasikan berbagai kepentingan dari beragam aspek perbedaan  dan kemiripan di antara berbagai suku-suku bangsa, dan setiap komponen kepribadian suku-bangsa di dalam kompleks budaya serta unit-unit sosialnya yang tersebar pada berbagai wilayah kebudayaan di Indonesia. Paham “perbedaan dan kemiripan” budaya di antara suku-suku bangsa tersebut kemudian lebih dipahami sebagai suatu bentuk relativisme kebudayaan yang muncul oleh sebab paham-paham etnosentrisme kebudayaan namun juga harus terbebas dari pandangan-pandangan stereotipe.

Kemajemukan suku-bangsa biasanya lebih dipahami ke dalam struktur sosial masyarakat yang dapat dijumpai di dalam bentuk kekerabatan kognatik dan unileneal. Di dalam struktur masyarakat Indonesia yang masih bersifat homogen maka sebagian komunitas dan suku-bangsa seperti itu memiliki ikatan solidaritas yang sangat kuat (rigid) di dalam bentuk komunal yang lebih gemeinschaft dengan aturan adat-istiadat yang sangat dijunjung tinggi oleh setiap peranan, status sosial, dan kedudukan sosial masing-masing individu sebagai bagian dari struktur sosial masyarakat tersebut. Dalam dinamika kebudayaan yang cenderung mengalami berbagai peristiwa sosial (recurrent process), struktur sosial yang semula begitu kuat dan ketat aturannya mulai menjadi lebih lentur dan dapat dijumpai dalam garis dimensinya yang cenderung menuju kepada perubahan kebudayaan (the directional process to culture change). Berbagai kontak perjumpaan kebudayaan dan migrasi telah menyebabkan struktur masyarakat tersebut menjadi lebih heterogen. Kehidupan komunal di dalamnya mulai menampakkan bentuk solidaritas yang geselschaft dan mekanisme sosial yang dijumpai menjadi lebih kepada bentuk organisasi buatan, dan ikatan primordial mulai hilang secara perlahan-lahan digantikan dengan bentuk kekerabatan di dalam aturan adat-istiadat yang lebih terpolakan oleh berbagai sebab ‘human milleu diperkotaan.

Kurikulum Pendidikan multikultural

Dalam Sarasehan Nasional Antropologi 2010; “Reinvensi Antropologi Di dalam Era Globalisasi” yang membicarakan mengenai kontribusi antropologi dalam pembangunan di Indonesia telah diajukan suatu rekomendasi mengenai pengembangan kurikulum pendidikan Indonesia untuk perlunya mata pelajaran antropologi diajarkan di SLTA. Sekarang ini, beberapa perguruan tinggi seperti UNES, UNAIR, UNLAM, UNAN, dan UNCEN juga telah membuka program-program studi sosiologi-antropologi di Fakultas Ilmu Pendidikan guna lebih mempersiapkan tenaga pendidik yang dibekali ilmu pengetahuan antropologi dan sosiologi melalui jenjang pendidikan strata 1 dengan gelar sarjana pendidikan untuk mengayomi mata pelajaran antropologi di sekolah.

Dalam kondisi masyarakat yang terheterogenisasi sekarang ini, maka sistem budaya yang dijumpai di dalam kehidupan suku-suku bangsa di berbagai daerah juga telah mulai dijumpai kehidupan pluralisme dalam setiap sendi-sendi kehidupan sosial dan budaya masyarakatnya. Masuknya unsur-unsur modernisasi sekarang ini juga telah menjadikan sebagian besar komunitas-komunitas sosial di daerah kabupaten dan propinsi mulai hidup dalam kondisi kemajemukan suku-suku bangsa. Untuk lebih mempertahankan budaya-budaya lokal maka saat ini mulai dirasakan perlu untuk lebih memberikan mata pelajaran antropologi terutama pengetahuan lokal (etnografi) dan budaya dasar di dalam setiap materi kurikulum pengajaran ilmu-ilmu sosial di sekolah. Dalam kehidupan global dewasa ini, pendidikan multikultural juga mulai dirasakan keperluannya agar kebudayaan nasional yang ethos-ethos kebudayaannya itu terpancar melalui sifat inheren dari kepribadian suku-suku bangsa dapat lebih ikut serta di dalam iklim pergaulan di antara bangsa-bangsa yang lainnya.

Pendidikan multikultural memang harus dimulai dari dasar sebuah pemahaman fisiologi di dalam keluarga-keluarga sampai dengan anak didik siap untuk memasuki jenjang pendidikan sekolah yang lebih lanjut. Proses belajar kebudayaan (learned process) seperti itu memang dapat dilalui dalam cara-cara penyampaian nilai internalisasi dan sosialisasi budaya dengan cara-cara schooling though di dalam lingkungan keluarga dan masyarakat sampai dengan terbentuknya perilaku-perilaku budaya yang secara organic value setiap individu memahami betul tindakan-tindakan yang harus dilakukannya melalui dasar pemahaman etika dan perilaku di dalam sistem budaya dan adat-istiadat masyarakatnya. Proses belajar kebudayaan melalui cara penanaman nilai-nilai enkulturasi di mana setiap individu harus menerima pengetahuan mengenai norma-norma serta aturan budaya di dalam menjalankan berbagai aktivitas kebudayaan yang lebih dilandasi oleh perasaan-perasaan kebudayaan di dalam merefleksikan sikap menthal dan perilaku budaya masyarakatnya itu juga sering dilakukan dengan cara-cara pembudayaan di dalam lembaga-lembaga pendidikan (George M. Burry, 1955; AFC. Wallace, 1956; Koentjaraningrat, 1985a) sehingga di dalam proses educating seperti itu maka, pranata pendidikan sebaiknya dilalui di dalam institusi-institusi pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi. Dengan begitu, untuk sampai pada terbentuknya pemahaman nilai-nilai symbolic value mengenai watak-watak yang melandasi kepribadian suku-suku bangsa tersebut, penyampaian kurikulum pendidikan multikultural di sekolah sekarang ini mulai sangat dirasakan keperluannya. Salah satu komponen dari kebijakan ‘pendidikan untuk semua’ yang dilontarkan UNESCO adalah kesetaraan gender dalam pendidikan. Cara perempuan memperoleh dan mengkonsepsikan pengetahuan kerapkali berbeda dengan laki-laki, perempuan sering melihat pengetahuan mereka sebagai afektif bukan kognitif, dan sebagai perasaan bukan pikiran. Alasan yang dikemukakan adalah karena pemikiran perempuan seringkali melibatkan pertimbangan pengalaman pribadi, kepedulian dan keterhubungan, tawar-menawar atas nilai-nilai yang bersifat absolut, tanggung jawab atas hak dan pikiran yang didasarkan atas konteks dan narasi, dibanding dengan pemikiran kognitif yang formal dan abstrak. Kemampuan baca tulis (literacy capability)[2] bagi perempuan dalam masyarakat multikultural perlu memperhatikan isu-isu di atas untuk mencapai kesetaraan gender (Ester Kuntjara, 2005).

Peranan Antropologi Dalam Pendidikan Multikultural

Antropologi di dalam cara-cara mensosialisasikan pendidikan multikultural di sekolah dapat memulainya dengan cara memperkenalkan bagian kegiatan pengajaran schoola materna[3] dan cara-cara yang berhubungan dengan maternal menthal health di dalam keluarga-keluarga pedesaan. Cara yang demikian itu selalu berhubungan dengan pola-pola pengasuhan anak (nurturancing), pemberian gizi, nutrisi, dan lactation sampai dengan cara-cara perawatan kesehatan pada proses kehamilan dan persalinan (nursery). Dalam kegiatan schoola materna, siswa diperkenalkan mengenai kebiasaan dan tradisi yang berlaku dalam sistem budayanya. Mengapa tanaman rempah-rempah dan jenis tanaman heritage yang lain seperti: kunyit, janar (kunir), jahe, dan sebagainya banyak memberikan manfaat dan digunakan di dalam berbagai aktivitas kebudayaan masyarakatnya dalam menjaga kesehatan (obat dan bahan stimulan) atau juga bumbu penyedap rasa masakan. Dalam aktivitas kebugaran, jenis tanaman heritage juga digunakan untuk tujuan hidup yang berhubungan dengan somatik, perawatan tubuh, dan kecantikan. Dalam aktivitas tradisi budaya yang berhubungan dengan maternality rites dalam sistem sosial masyarakat Banjar, janar pidara yang diyakini sebagai jenis tanaman surga digunakan sebagai pelengkap upacara (singgle apparatus) di dalam cara-cara pengasuhan anak pada waktu balita harus dipukung untuk tujuan menenangkan anak dari berbagai gangguan penyakit. Jenis tanaman rempah-rempah juga digunakan di dalam kegiatan pertanian pada waktu mengaroni, yaitu membebaskan tanaman dari gangguan serangan hama.

Dengan lebih memahami kegunaan dari jenis tanaman heritage untuk tujuan ekonomi, produksi, dan tradisi budaya seperti itu maka kegiatan belajar schoola materna yang diberikan kepada siswa juga dapat dilakukan bersama di dalam kegiatan pertemuan pelajar dari berbagai daerah dengan latar belakang tradisi yang berbeda untuk tujuan merepresentasikan unsur-unsur perbedaan dan kemiripan budaya sehingga dalam menentukan beberapa karakter budaya bangsa yang origin sifatnya, pihak lain yang memberikan penilaian kepada kebiasaan hidup signifikan dari tradisi suku-suku bangsa (bangsa) justru dapat menjumpai makna kehidupan dari sifat-sifat inheren yang nampak dibelakang peristiwa-peristiwa sosial di dalam tindakan dan aktivitas kebudayaan yang dilakukan secara bersama tersebut. Hubungan kemitraan budaya di antara pelajar dan mahasiswa seperti ini juga dapat dilakukan dalam kegiatan ekstra-kurikuler yang menyangkut hubungan dengan orang tua pelajar dengan melibatkan peranan-peranan partnership berupa pemberian sponsor dan support pendanaan dengan dukungan kontribusi yang lebih luas lagi.

Aktivitas belajar di dalam schoola materna juga dapat dilakukan dengan memberikan keterampilan khusus di dalam membuat objek-objek benda kebudayaan (utilitarian objectives) yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dengan cara belajar sambil berpraktek kerja di dalam menganyam keranjang, membuat barang tembikar, menenun kain, atau mengukir kayu yang dilakukan dengan cara yang lebih mudah, yaitu memperagakan keterampilan dan kemudian siswa diajak untuk lebih mengenali objek-objek benda kebudayaan tersebut melalui ethnohistory yang dapat dilakukan dengan cara-cara bimbingan classical, panduan, dan presentasi mengenai berbagai aspek kehidupan kebudayaan dan tradisi. Cara belajar kebudayaan (learned process) seperti ini pada bagian penanaman nilai dan enkulturasi budaya pada akhirnya dapat dihasilkan sebuah pemahaman kognitif mengenai cara berpikir mengapa? Untuk apa? Dan bagaimana? Suatu kebiasaan hidup dan tradisi itu dipahami sebagai sebuah persepsi budaya di dalam membentuk konsep, pengetahuan, dan orientasi nilai budaya serta pandangan hidup yang nilai-nilai simboliknya dipahami betul sebagai bagian dari kepribadian-kepribadian suku-bangsa di dalam mempertimbangkan tindakan-tindakan kebudayaan yang dapat dilakukan oleh setiap individu yang terlibat di dalam kegiatan belajar tersebut. Kegiatan schoola materna yang demikian ini dapat juga dilakukan dengan cara membentuk sebuah konsorsium untuk pameran, peraga budaya, lokakarya, dan collaborated learning dalam bentuk kemitraan dengan museum atau pariwisata yang langsung berhubungan dengan tempat dari objek-objek benda budaya itu tersimpan, terawat, dan terpelihara kelestariannya.

Kita juga mungkin akan menaruh perhatian yang lebih pada waktu menjumpai anak-anak dengan latar belakang budaya yang berbeda saling diperkenalkan cara-cara membuat kayu bakar dan cara tradisional memasak kentang, moniac, ubi, dan ketela di dalam daun pisang dengan cara memasak di atas batu sambil bermain dan berdialog menggunakan bahasa yang dapat dimengerti secara bersama oleh anak-anak tersebut. Kepada anak-anak juga ditanamkan nilai-nilai yang dapat mengembangkan proses kognitif, afektif, dan psikomotoriknya sampai terbentuk pengetahuan berupa persepsi budaya di dalam diri setiap anak sehingga mereka dapat menginterpretasikan berbagai pandangan nilai mengenai: mengapa kita harus memasak makanan?, dari mana makanan itu berasal?, dan untuk apa atau bagaimana kita harus menghormati setiap karunia yang diberikan oleh tuhan berupa produk makanan untuk dapat mencukupi kebutuhan jumlah kalori dan nutrisi dalam bertahan hidup?.

Di dalam proses belajar schooling though seperti itu, alam dan lingkungan merupakan guru yang terbaik di dalam memberikan intuisi-intuisi pemahaman ke dalam cara berpikir empiris kepada anak dan di dalam beresponsi terhadap pengalaman empiris tersebut, fantasi anak cenderung beresponsi terhadap berbagai kondisi yang dijumpai di dalam lingkungan alam untuk kemudian anak mulai mengapersepsikan kembali berbagai pengetahuannya di dalam membentuk perilaku-perilaku khusus yang berkembang melalui aspek-aspek kecerdasannya. Kepribadian anak mulai terbentuk dengan ikatan perasaan (bound attachment) yang menghubungkan bagian perilaku dengan suasana harmonisasi alam dan lingkungan yang dijumpainya. Dengan begitu, jelas bahwa perilaku budaya manusia sebenarnya juga dihasilkan dari proses adaptif manusia dengan lingkungan sebagai pembentuk perilaku-perilaku khusus tersebut, dan perilaku budaya juga muncul dari faktor-faktor biologi, evolusi pemikiran dan tingkat-tingkat kecerdasan yang berbeda antara anak laki-laki dan perempuan dan di antara anak dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda pula. Anak perempuan lebih terbiasa untuk berpikir afektif dan perilaku normatifnya lebih terhubungkan kepada cara-cara memelihara lingkungan (nursery land), merawat dan menjaga kesehatan keluarga dan lingkungan (nourishment), dan bagaimana mereka menjaga kebersihan rumah-tangga dan lingkungan (house keeping). Sedangkan anak laki-laki lebih cenderung berpikir kognitif dan tindakan-tindakan kebudayaannya lebih terhubungkan dengan cara-cara engineering di dalam menghasilkan berbagai teknologi subsisten yang cocok dengan lingkungan tempat tinggalnya yang khusus, melakukan pekerjaan-pekerjaan phisik yang berbeda dengan perempuan, dan superioritas kepemimpinan yang mendominasi lingkungan sosialnya. Namun begitu, dalam beberapa keterbatasan psikomotorik yang dimilikinya maka terlihat bahwa: anak perempuan cenderung lebih menggunakan perasaan serta emosi di dalam berbagai tindakan yang berhubungan dengan etika dan perilaku budaya, sedangkan anak laki-laki lebih menggunakan logika dan pertimbangan menthal perilaku budaya dalam setiap aktivitas yang ditekuninya.

Di dalam thema besar mengenai pilihan institusi pendidikan oleh pelajar, Suleeman (1995) menjumpai bahwa anak perempuan lebih memilih SKKP atau SMKK yang mengajarkan dan menyiapkan mereka untuk menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik, sementara anak laki-laki lebih suka untuk memilih pendidikan di ST dan STM di mana mereka dapat belajar untuk menjadi teknisi. Begitu juga, dalam proses belajar educating melalui minat anak mengikuti bidang-bidang pengajaran IPA, IPS, dan Budaya maka anak laki-laki lebih memilih bidang pengajaran IPA yang lebih menggunakan logika, physic, matematik, dan pengetahuan alam dibandingkan dengan minat anak perempuan yang memilih bidang pengajaran IPS atau ilmu-ilmu sosial dan budaya yang dianggap lebih mudah. Kenyataan yang demikian konsekwensinya menjadi lebih serius, contohnya: pelajar sering beranggapan bahwa mata pelajaran IPA lebih memiliki prestise yang besar dan hanya murid-murid yang cerdas dan berbakat saja (biasanya laki-laki) yang dapat mengikutinya. Sementara mata pelajaran IPS dianggap sebagai ‘tidak terlalu sulit’ dan lebih dapat diikuti oleh murid perempuan yang biasanya tidak lebih pintar dari murid laki-laki yang memilih kelas IPA (Ester Kuntjara, 2005).

Multikultural Dan Multietnik Di Dalam Kehidupan Plural Suku-suku Bangsa

Dinamika sosial pada masyarakat multikultural dan multietnik di dalam kehidupan pluralisme suku-suku bangsa adalah seringnya sebuah struktur keluarga luas mengalami perubahan di dalam hubungan kekerabatan melalui perkawinan pada keluarga-keluarga endogami dan keluarga-keluarga exogami, terutama yang sering dijumpai pada pilihan adat menetap sesudah pernikahan serta pola-pola hubungan yang terbentuk melalui struktur keluarga amitalocality atau avunculocality sehingga sistem kekerabatan suku-suku bangsa yang semula kognatik sistem berganti menjadi unileneal atau sebaliknya. Berbagai perubahan yang terjadi di dalam struktur keluarga pedesaan justru telah menjadikan sistem adat ultimogenitur dan promogenitur yang mengatur pewarisan properti untuk lahan-lahan pertanian yang semula dimiliki secara komunal berganti menjadi kepemilikan individu di dalam keluarga luas.

Di dalam belajar kebudayaan (learning process) melalui sosialisasi dan internalisasi, perempuan umumnya lebih dipengaruhi oleh latar belakang budaya maternalistik yang menuntutnya untuk lebih berperilaku normatif di dalam memenuhi fungsi afeksi, resiprositas, sex dan reproduksi; merawat dan menjaga kesehatan keluarga; serta menjadi ibu rumah-tangga yang baik bagi suami, anak-anak, dan keluarga luasnya. Sementara, laki-laki dalam tindakannya lebih terhubungkan dengan budaya paternalistik yang mengharuskannya untuk melegitimasi semua logika pertimbangan akal dan pekerjaan yang menuntutnya untuk menjadi seorang engineering dalam mengembangkan teknologi pertanian, manager dalam kepemilikan properti dan tenaga kerja, serta kesanggupan secara physik sebagai seorang laki-laki yang harus lebih mendominasi perempuan. Namun begitu, dalam hal pengembangan usaha bisnis, korporasi, dan wirausaha; perempuan sebenarnya lebih memiliki kesanggupan di dalam menjalankan usaha-usaha kompensasi industri rumah tangga serta stabilitas ekonomi keluarga. Kondisi sosial yang didasari oleh perbedaan gender ini, justru telah menimbulkan persoalan curse and discurse di mana petani di desa harus berjuang untuk merubah nasibnya yang ditakdirkan untuk dilahirkan di atas sebidang tanah dan harus selalu mengabdikan hidup kepada tuan-tuan tanah feodal. Usaha-usaha ekonomi kapitalis yang cenderung menginginkan untuk setiap lahan-lahan pertanian dapat masuk ke dalam ketentuan harga pasar telah merubah berbagai kepemilikan harta komunal menjadi kepemilikan individu, dengan begitu maka setiap keluarga bebas untuk menjual, menjamin-kreditkan, atau menyewakan usaha-usaha pertaniannya kepada pemilik modal. Dalam kasus-kasus yang dijumpai pada kehidupan ekonomi komunitas desa hutan di Kalimantan, laki-laki banyak yang mulai kehilangan pekerjaan karena petani feodal menjual lahan-lahan pertaniannya kepada kepemilikan usaha baru untuk pengembangan usaha hutan produksi dan hutan industri. Dalam kondisi ‘maternal menthal health’ di mana laki-laki mulai kehilangan harga diri dan pekerjaan (bridesness situations) seperti itu, wanita justru lebih dapat berperan untuk menggantikan posisi laki-laki di dalam memenuhi stabilitas ekonomi domestik – struktur sosial keluarga luas mulai berubah ke dalam unit-unit sosial keluarga matrivokal.

Pada dasarnya hubungan perkawinan adalah sebuah kontrak sosial yang menciptakan banyak hubungan kerabat. Hubungan contractual yang dijumpai di dalam mekanisme hubungan kerabat melalui perkawinan (affinity) justru telah lebih menjamin fungsi afeksi dan resiprositas di samping sex, pendidikan, dan reproduksi (Murdock, at.al., 1955; Edmund Leach, 1964). Perkawinan secara simultan ini justru dapat lebih menjamin keberlangsungan struktur sosial[4] keluarga luas. Tetapi, pada banyak kasus yang dijumpai di dalam hubungan multikultural, nilai dan pandangan hidup yang terdapat pada orang Eropa sering nampak berbeda jika dipahami melalui perspektif nilai yang terdapat pada orang Asia. Bahkan, persoalan-persoalan diskursus yang muncul di dalam kasus-kasus perkawinan concensual yang dibangun melalui hubungan anonim malahan cenderung menjadikan bentuk stratifikasi sosial yang terdapat di masyarakat menjadi lebih terbuka (to be a gracious open social stratification) – dengan begitu maka sudah dapat dipastikan bahwa struktur sosial di dalam keluarga luas juga telah mengalami perubahan.

Dalam hal memahami struktur sosial  tersebut maka hubungan multietnik dan studi multikultural harus juga lebih menekankan kepada perbedaan dan kemiripan budaya (cultural relativism). Relativisme kebudayaan yang dibangun atas dasar etnosentrisme sebenarnya juga lebih ditentukan oleh significan others[5] dalam memberikan ciri-ciri spesifik kepada kebiasaan dan pandangan hidup dari sifat inheren kepribadian suku-suku bangsa yang sedang dipelajarinya. Etnologi periode kolonial dahulu justru beranggapan bahwa kebiasaan hidup suku-bangsa asli itu sebenarnya adalah sebuah gambaran murni (origin) dari kehidupan manusia yang belum terkontaminasi oleh modernisasi dan persoalan ‘human milleu’ di perkotaan.

Kontak perjumpaan di antara kebudayaan suku-suku bangsa dan bangsa yang dalam periode sejarah lebih dikenal sebagai ‘penetration pacifique’ telah membawa pengaruh globalisasi ke dalam kebudayaan suku-suku bangsa di Asia-Pasifik termasuk Indonesia. Globalisasi yang dilalui dalam beberapa periode, mulai dari masuknya maskapai perdagangan Hindia-Belanda dan Asia Timur Jauh, post-kolonialisme sampai dengan post-kapitalisme telah merubah beberapa orientasi nilai di dalam kehidupan masyarakat dan suku-suku bangsa. Pluralisme dijumpai pertama, di dalam cara hidup  dan pandangan hidup berusaha secara ekonomi dengan diperkenalkannya berbagai jenis ‘alat tukar’ dan mata uang sebagai pembayaran yang sah untuk setiap jenis kuota dan produksi yang diperdagangkan; kedua, homogenitas suku-bangsa mulai tersamarkan yang dapat ditandai dengan semakin berkurangnya ikatan-ikatan primordial, dan komunitas-komunitas sosial mulai menunjukkan sifatnya yang lebih heterogen; ketiga, pluralisme juga dijumpai di dalam tipe kepemimpinan masyarakat dengan ciri-ciri khusus kepemimpinan tradisional, otoriter, dan paternalistik atau juga yang sekarang ini lebih diinginkan yaitu, tipe kepemimpinan demokratik; keempat, pluralisme juga dijumpai di dalam hubungan hirarkis antara desa dan kota yang dimulai dari masyarakat petani feodal kemudian berkembang menjadi masyarakat industri pedesaan dengan diperkenalkannya azas-azas merkantilisme dan sosialis yang lebih menginginkan semua kegiatan ekonomi lebih tersentralisasi di dalam model pengelolaan agro-managerial, dan petani kapitalis yang lebih berorientasi pada tujuan berusaha secara ekonomi yang terdesentralisasi di mana setiap individu bebas ikut serta di dalam kegiatan ekonomi; dan akhirnya, berbagai jenis usaha konglomerasi dan komplementer tumbuh dalam hirarki desa-kota melalui kelembagaan-kelembagaan korporated kin-group dan jenis usaha  patembayanan yang muncul lebih didasari oleh kelompok-kelompok pertemanan bisnis (small group dan interest group). Dalam memahami struktur sosial masyarakat Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh kehidupan pluralisme seperti itu, Geertz (1963) menyebutnya sebagai:  struktur sosial masyarakat Indonesia yang terdiri dari komunitas-komunitas dan golongan sosial itu, nampak seperti individu-individu yang selalu bergerak secara kohesive untuk mendekati tujuannya secara bersama.  Semakin sering bagian-bagian dari komponen di dalam sistem sosial yang saling berhubungan tersebut mengalami berbagai peristiwa recurrent yang mengarah kepada suatu kondisi perubahan, maka semakin sering bagian dari komponen-komponen sosial dan budaya tersebut justru kembali kepada bentuk dan sifatnya yang origin (Sulaksono, 2008).

 

The economizing

Pendidikan Multikultural

Dalam mempelajari struktur sosial keluarga luas dengan stratifikasi sosialnya yang lebih bersifat terbuka, hubungan ekonomi pada masyarakat egalitarian juga mulai mengarah kepada pola-pola distribusi ekonomi yang ‘stratified redistribution’ dan dalam mempelajari berbagai perilaku ekonomi pada masyarakat pedesaan, Dalton & Polanyie (1974) memunculkan sebuah definisi: Perilaku ekonomi (the economizing) mencakup semua aktivitas manusia dalam penyediaan alur kebutuhan hidup yang berhubungan dengan cara-cara produksi, distribusi, dan jenis pelayanan jasa dan tenaga kerja di dalam sebuah struktur yang selalu dihadirkan secara berulang-ulang sampai dengan penyediaan barang, jasa, dan produksi tersebut didistribusikan kembali ke dalam bentuk pemasaran yang lebih luas.

Dalton (1974) kemudian justru telah membuat proses sintesa ke dalam definisinya tersebut dengan lebih mempertanyakan: “…. dalam mempelajari perilaku ekonomi pada banyak masyarakat suku-suku bangsa tersebut, sudahkah antropologi juga memperhatikan adanya berbagai perilaku budaya yang sebenarnya tidak ekonomis di dalam masyarakat; namun, kalau berbagai perilaku budaya seperti: pemborosan ekonomi (boasting), kompetisi (competitions), pemboncengan ekonomi (free loaders), spekulan dan pemalas (shirkers) yang selalu mencari jalan pintas untuk mendapatkan kesuksesan berusaha, perilaku pengrusakan (bragging behavior) untuk sumber-sumber daya ekonomi, potlacht dan sebagainya itu kemudian dilekatkan kembali ke dalam perilaku ekonomi, maka perilaku budaya tersebut justru dapat mempengaruhi ekonomi politik secara keseluruhan”. Dalam hubungan multikultural dan multietnik yang lebih dilandasi pada tujuan perdagangan bebas dan pasar liberal, berbagai perilaku budaya tidak ekonomis yang disintesakan tersebut justru sering muncul sebagai sebuah tujuan politik dalam maksud-maksud memenuhi kebutuhan pasar tradisional dan modern. Eksploitasi secara berlebihan, dumping sebuah negara, embargo dan monopoli yang terdapat di dalam hubungan ekonomi multilateral memang masih memerlukan perhatian yang lebih serius melalui pemahaman-pemahaman kemitraan komprehensif di antara kesepakatan negara-negara APEC dan lembaga-lembaga perdagangan dunia lainnya. Kondisi yang demikian harus lebih diperhatikan mengingat kecenderungan yang sering muncul pada jenis usaha konglomerasi besar memasukkan investasi dan permodalannya tanpa memperhatikan batas wilayah sebuah negara sehingga batas wilayah negara menjadi sebuah ruang spatial yang ‘cair’ (state borderless). Dalam kondisi seperti itu maka kesiapan negara untuk mengembalikan batas teritorial menjadi lebih penting.

Penutup

Dalam konteks kebudayaan maka pemikiran multikultural dibicarakan melalui tema-tema kebudayaan nasional sebagai pembentuk karakter budaya bangsa di dalam menjalani hidup berdampingan dengan kebudayaan bangsa-bangsa yang lainnya. Hubungan kemitraan di dalam bidang-bidang pendidikan, sosial-budaya, tradisi, dan ekonomi biasanya lebih didasari kepada cara-cara hidup berdampingan di antara satu bangsa dengan bangsa yang lainnya sehingga perasaan kebudayaan yang dijumpai lebih mengutamakan pada nilai-nilai kesamaan di dalam menjunjung harkat hidup (equality) di antara bangsa-bangsa. Bentuk kemitraan dalam hubungan multikultural juga sering lebih mengutamakan kepada prinsip-prinsip kebebasan (freedom) dan kebersamaan (unity) dalam maksud-maksud tujuan lebih menjalin keharmonisan hidup bersama. Dalam hubungan kebersamaan antar bangsa Asia dan Eropa misalnya, maka peranan sebagai ‘endoncers’ diperlukan di dalam memperkenalkan unsur-unsur kebudayaan dan tradisi.

Dalam Sarasehan Nasional Antropologi 2010; “Reinvensi Antropologi Di dalam Era Globalisasi” yang membicarakan mengenai kontribusi antropologi dalam pembangunan di Indonesia telah diajukan suatu rekomendasi mengenai pengembangan kurikulum pendidikan Indonesia untuk perlunya mata pelajaran antropologi diajarkan di SLTA. Pendidikan multikultural memang harus dimulai dari dasar pemahaman fisiologi di dalam keluarga-keluarga sampai dengan anak didik siap untuk memasuki jenjang sekolah yang lebih lanjut. Salah satu komponen dari kebijakan ‘pendidikan untuk semua’ yang dilontarkan UNESCO adalah kesetaraan gender dalam pendidikan. Cara perempuan memperoleh dan mengkonsepsikan pengetahuan kerapkali berbeda dengan laki-laki, perempuan sering melihat pengetahuan mereka sebagai afektif bukan kognitif, dan sebagai perasaan bukan pikiran. Alasan yang dikemukakan adalah karena pemikiran perempuan seringkali melibatkan pertimbangan pengalaman pribadi, kepedulian dan keterhubungan, tawar-menawar atas nilai-nilai yang bersifat absolut, tanggung jawab atas hak dan pikiran yang didasarkan atas konteks dan narasi, dibanding dengan pemikiran kognitif yang formal dan abstrak.

Antropologi di dalam cara-cara mensosialisasikan pendidikan multikultural di sekolah dapat memulainya dengan cara memperkenalkan bagian kegiatan pengajaran schoola materna dan cara-cara yang berhubungan dengan maternal menthal health di dalam keluarga-keluarga pedesaan. Cara yang demikian itu selalu berhubungan dengan pola-pola pengasuhan anak (nurturancing), pemberian gizi, nutrisi, dan lactation sampai dengan cara-cara perawatan kesehatan pada proses kehamilan dan persalinan (nursery). Aktivitas belajar di dalam schoola materna juga dapat dilakukan dengan memberikan keterampilan khusus di dalam membuat objek-objek benda kebudayaan (utilitarian objectives) yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dengan cara belajar sambil berpraktek kerja di dalam menganyam keranjang, membuat barang tembikar, menenun kain, atau mengukir kayu yang dilakukan dengan cara yang lebih mudah, yaitu memperagakan keterampilan dan kemudian siswa diajak untuk lebih mengenali objek-objek benda kebudayaan tersebut melalui ethnohistory yang dapat dilakukan dengan cara-cara bimbingan classical, panduan, dan presentasi mengenai berbagai aspek kehidupan kebudayaan dan tradisi. Cara belajar kebudayaan (learned process) seperti ini pada bagian penanaman nilai dan enkulturasi budayanya pada akhirnya dapat dihasilkan sebuah pemahaman kognitif mengenai cara berpikir mengapa? Untuk apa? Dan bagaimana? Suatu kebiasaan hidup dan tradisi itu dipahami sebagai sebuah persepsi budaya di dalam membentuk konsep, pengetahuan, dan orientasi nilai budaya serta pandangan hidup yang secara symbolic value dipahami benar sebagai bagian dari kepribadian-kepribadian suku-bangsa di dalam mempertimbangkan tindakan-tindakan kebudayaan yang dapat dilakukan oleh setiap individu yang terlibat di dalam kegiatan belajar tersebut. Schoola materna juga merupakan proses belajar melalui cara-cara sosialisasi yang lebih berhubungan dengan tradisi budaya dalam situasi individu di dalam keluarga dan lingkungan sosialnya mengenali tahap-tahap kehidupan yang harus dilaluinya mulai dari kanak-kanak sampai menjelang dewasa (maternality rites) yang mencakup hal-hal yang dijumpainya dalam pengenalan etika dan perilaku budaya dalam menjawab setiap persoalan yang berhubungan dengan substansi hidup, resiprositas, pendidikan, dan reproduksi.

Pada dasarnya hubungan perkawinan adalah sebuah kontrak sosial yang menciptakan banyak hubungan kerabat. Hubungan contractual yang dijumpai di dalam mekanisme hubungan kerabat melalui perkawinan (affinity) justru telah lebih menjamin fungsi afeksi dan resiprositas di samping sex, pendidikan, dan reproduksi (Murdock, at.al., 1955; Edmund Leach, 1964). Perkawinan secara simultan ini justru dapat lebih menjamin keberlangsungan struktur sosial keluarga luas. Tetapi, pada banyak kasus yang dijumpai di dalam hubungan multikultural, nilai dan pandangan hidup yang terdapat pada orang Eropa sering nampak berbeda jika dipahami melalui perspektif nilai yang terdapat pada orang Asia. Bahkan, dalam kasus-kasus perkawinan concensual yang dibangun melalui hubungan anonim malahan cenderung menjadikan bentuk stratifikasi sosial yang terdapat di masyarakat menjadi lebih terbuka (to be a gracious open social stratification) – dengan begitu maka sudah dapat dipastikan bahwa struktur sosial di dalam keluarga luas juga telah mengalami perubahan.

Dalam mempelajari struktur sosial keluarga luas dengan stratifikasi sosialnya yang lebih bersifat terbuka, hubungan ekonomi pada masyarakat egalitarian juga mulai mengarah kepada pola-pola distribusi ekonomi yang stratified redistribution, dan dalam mempelajari berbagai perilaku ekonomi pada masyarakat pedesaan, Dalton & Polanyie (1974) memunculkan sebuah definisi mengenai perilaku ekonomi yang mencakup semua aktivitas budaya manusia. Globalisasi yang dilalui dalam beberapa periode, mulai dari masuknya maskapai perdagangan Hindia-Belanda dan Asia Timur Jauh, post-kolonialisme sampai dengan post-kapitalisme telah merubah beberapa orientasi nilai di dalam kehidupan masyarakat dan suku-suku bangsa. Akhirnya, studi multikultural dan hubungan multietnik dalam masyarakat plural dapat dilakukan dengan melihat kepada bagian-bagian integral di antara ekonomi, sosial, dan budaya yang dapat dijumpai pertama, di dalam cara hidup dan pandangan hidup berusaha secara ekonomi dengan diperkenalkannya berbagai jenis ‘alat tukar’ dan mata uang sebagai pembayaran yang sah untuk setiap jenis kuota dan produksi yang diperdagangkan; kedua, homogenitas suku-bangsa mulai tersamarkan yang dapat ditandai dengan semakin berkurangnya ikatan-ikatan primordial, dan komunitas-komunitas sosial mulai menunjukkan sifatnya yang lebih heterogen; ketiga, pluralisme juga dijumpai di dalam tipe kepemimpinan masyarakat dengan ciri-ciri khusus kepemimpinan tradisional, otoriter, dan paternalistik atau juga yang sekarang ini lebih diinginkan yaitu, tipe kepemimpinan demokratik; keempat, pluralisme juga dijumpai di dalam hubungan hirarkis antara desa dan kota yang dimulai dari masyarakat petani feodal kemudian berkembang menjadi masyarakat industri pedesaan dengan diperkenalkannya azas-azas merkantilisme dan sosialis yang menginginkan semua kegiatan ekonomi lebih tersentralisasi di dalam model pengelolaan agro-managerial, dan petani kapitalis yang lebih berorientasi pada tujuan berusaha secara ekonomi yang lebih terdesentralisasi di mana setiap individu bebas ikut serta di dalam kegiatan ekonomi; dan akhirnya, berbagai jenis usaha konglomerasi dan komplementer tumbuh dalam hirarki desa-kota melalui kelembagaan-kelembagaan korporated kin-group dan jenis usaha  patembayanan yang muncul lebih didasari oleh kelompok-kelompok pertemanan bisnis (small group dan interest group).

Daftar Pustaka

Achmad Fedyani Saifuddin & Mulayawan Karim (penyunting), 2008. Refleksi Karakter Bangsa; Kementrian Negara Pemuda Dan Olah Raga Dan Ikatan Alumni Universitas Indonesia, Jakarta. FKAI Forum Kajian Antropologi Indonesia.

Dalton,  George, 1965. “Primitive Money”: American Anthropologist, 67:44-65.

…………….., 1969. “Theoritical Issues in Economic Anthropology”:  Current Anthropology, 10:63-102.

…………….., 1972. “Peasantries in Anthropology and History”: Current Anthropology, 13:385-416.

…………….., 1974. “How Exactly Are Peasant Exploited?”: American Anthropologist, 76:553-416.

Ester Kuntjara, 2005. Literacy in a Multicultural Indonesian Society: A Feminist Perspective; Antropologi Indonesia: Indonesian Journal of Social and Cultural Anthropology. Vol. 29, No. 1, hlm. 16 – 25.

Foster, George M., 1967. Tzinzunzan: Mexican Peasant in A Changing World. Boston: Little Brown.

…………….., 1974. Limited Good or Limited Goods: Observations on Acheson. American Anthropologist, vol. 76: 53-57

Geertz, Clifford. 1963. Agricultural Involution: The Process of Ecological Change in Indonesia. Barkeley: University of California Press for the Association of Asian Studies.

George M. Burry, 1984. Patologi Sosial. Jogyakarta: Gajah Mada University Press.

Harris, Marvin. 1980. Culture, People, Nature: An Introduction to General Anthropology. New York: Harper & Row Publisher, Inc., Columbia University.

Koentjaraningrat, 1985a. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rajawali Press.

…………………., 1985b. Ilmu Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Pustaka.

Ninuk Kleden & Yasmine Shahab, 2004. Kebijakan Multikultural: Jurnal Antropologi Indonesia. Jakarta: Universitas Indonesia.

Subur Budhi Santoso, 1987. Kesatuan Ekonomi Keluarga Pada Masyarakat Petani Pedesaan Di Indonesia, Jakarta: Makalah Pada Konggres Kebudayaan Indonesia.

Sulaksono, Dwi Putro, 2008. Determinisme dan Perubahan Kebudayaan: Studi Antropologi Dayak Desa Hutan Kalimantan, Banjarbaru:Scripta Cendekia.

………………….., 2008. Studi Preservasi Bahan Serat Dan Kayu; Koleksi Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan, Banjarbaru: Museum Lambung Mangkurat.

Kamanto Sunarto, 19… Bunga Rampai Ilmu Sosiologi, Jakarta, Universitas Indonesia.

William A. Haviland (Terjemahan: R.G. Soekadijo), 1988. Antropologi; Jld. 2, Jakarta: Erlangga.

Winarto, Yunita T., 2006. Pendekatan Prosesual: Menjawab Tantangan Dalam Mengkaji Dinamika Budaya; Antropologi Indonesia, Indonesian Journal of Social and Cultural Anthropology, Vol. 30, No. 2, 2006.


[1] Drs. Dwi Putro Sulaksono Bekerja sebagai tenaga ahli fungsional madya di Museum Lambung Mangkurat dan juga pengajar antropologi di FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Nancy R. Stroupe, MA, MPH. dari University of Arizona yang telah banyak menginspirasikan penulisan artikel ini melalui proposal: ‘Maternal Menthal Health Project in West Kalimantan’ di dalam e-mailnya kepada penulis.

[2] Lihat, Ester Kuntjara, Literacy in a Multicultural Indonesian Society: A Feminist Perspective; Antropologi Indonesia: Indonesian Journal of Social and Cultural Anthropology. Vol. 29, No. 1, Januari 2005, hlm. 16 – 25.

[3] Schoola materna (scuola materna; kindergarten) Merupakan proses belajar melalui cara-cara sosialisasi yang lebih berhubungan dengan tradisi budaya dalam situasi individu di dalam keluarga dan lingkungan sosialnya mengenali tahap-tahap kehidupan yang harus dilaluinya mulai dari kanak-kanak sampai menjelang dewasa (maternality rites) yang mencakup hal-hal yang dijumpainya dalam pengenalan etika dan perilaku budaya dalam menjawab setiap persoalan yang berhubungan dengan substansi hidup, resiprositas, pendidikan, dan reproduksi (www.beginningwithi.com/comments/).

[4] Struktur sosial dari A.R. Radcliffe Brown (Koentjaraningrat, 1985a; Sulaksono, opcit. 2008a, hlm. 36).

[5] Significan others (Robert K. Merton; Kamanto Sunarto) dalam hal memperoleh pengertian yang menyeluruh mengenai konsep yang berhubungan dengan significan others tersebut, pendekatan antropologi dan sosiologi cenderung melihatnya melalui pengertian-pengertian yang mendasari bidang-bidang keilmuan itu sendiri (cultural legacy). Berbeda dengan bidang kajian ilmu budaya (cultural study) yang menggunakan pendekatan cross-cultural study, inter-disiplinary research, trans-sectoral atau inter-sectoral approachment maka, ‘others’ adalah juga merupakan domain-domain yang dapat dijumpai oleh pihak-pihak (orang ketiga) yang sering memberikan ciri-ciri signifikan ke dalam watak-watak kepribadian umum dari perbedaan dan kemiripan kebudayaan suku-suku bangsa yang dipelajarinya. Studi kultural dan significan others juga dijumpai di dalam skala otoritas teritorial, birokrasi, serta batas negara.

 

Lambung Mangkurat Museum

Conservation to the Cultural Heritage