Preservasi Bahan Serat Dan Kayu

Studi Antropologi Komunitas Desa Hutan Kalimantan

Preservation

Consevation to the Cultural Herritage

Water Vessels

ceramic (Museum Collections)

Pendidikan Multikultural

Industri Kapal Rakyat Kalimantan


The goal of a conservation program is the long-term preservation of the utility of collections; thus any conservation approach must facilitate access to the collections and preserve their integrity for research and other uses (Carolyn L. Rose and Catharine A. Hawks, 1995). Since the conservation is determined as caring and treating the guaranted protections into the one object, some pertaining mechanism of preventive should be preserved for retarding the process of the deterioration and the dissolve of cultural properties. That is, the way of conservator reducing the risks of use in collections. Hence for the aim of preventive conservations; preservation is examined for preserving, preventing, caring and treating involvement into the works of conservation due to the conservator widhrawing the endeavors of prevention, protected, and saveguarded the cultural herritage.

The Formal Type of Wood and the Flexible Materials in Artifacts
The formal type of artifact resulting by the technology substantively shown an identical used of their ideofacts. It visualized of formal type, materials, and style which was directly shows up the socio-cultural function in societies. The measuring of circular globe, square, height, width, and high of it formal type is a specific criterium attampted by curator in identifying the object that he inspected for; The formal type of artifacts (speciment) is resulting from a cognitive process of the creative imagination when an artis creating his handcraftment arts. The source of creative imagination is pervoke by conceptions of man-thought his environment. That is, the emphirical understanding of people concepting their environment of living poverties. The imaginative proccess in pervocating the cognitive view like this is developed to be the representative concept of men emerging their orientation for keep maintained of their social order. A cognitive understanding of man thoughts in reflecting an ethic and menthal behavior began to emerge when their native art was closely related to the faith of religion that impressively releying on function of the used of the cultural properties – thus, beyond into the formal type of an artifact, there are symbols that imaginatively reflecting concept of methaphysical order from the sacred apparatus of a recurrent perceiveable in myth.

Komunitas Desa Hutan adalah suatu kesatuan hidup manusia yang bertempat tinggal di dalam batas wilayah demografis desa dekat hutan, saling berinteraksi, bergaul, dan melahirkan keturunannya untuk jangka waktu yang cukup lama, dengan aturan adat istiadat yang didukung secara bersama, dan yang terikat oleh identitas komunitasnya. Sebagai produsen pedesaan, suatu komunitas seperti itu dalam perilaku ekonominya telah memanfaatkan sumber-sumber alam dan ikut serta (berperan minimal) di dalam pengelolaan hutan, dan sangat menggantungkan harapan hidupnya kepada redistributor di dalam menyalurkan hasil-hasil usaha produktif di desa. Komunitas desa hutan umumnya adalah individu-individu yang terlahir di atas sebidang tanah terbatas, dan harus menerima takdirnya untuk hidup sebagai petani feodal yang mengelola pertanian lahan kering (dry land cultivations) dengan pengetahuan terbatas, serta pemakaian teknologi subsisten yang cocok dengan lingkungan hutan sub-tropis basah Kalimantan. Satu-satunya hal yang dapat membanggakan bagi masyarakat petani marginal seperti itu adalah: Apabila petani feodal dapat menghidupi stabilitas ekonomi rumah tangga, serta menerima upah minimal dari tuan-tuan tanah (land tenure) yang membuka lahan-lahan pertanian monokultur dengan jenis-jenis tanaman (crass cropt plantations) seperti karet, kopi, lada, coklat dan sebagainya dalam usaha-usaha korporasi di atas tanah apanage1, yang merupakan ‘warisan’ dari usaha-usaha kapitalisme Belanda. Dalam pola hidup masyarakat egalitarian seperti itu, hasil-hasil usaha pertanian yang cukup setiap musim tahunannya dianggap sebagai karunia serta limpahan berkah yang diberikan oleh tuhan, dan tuan-tuan tanah feodal kemudian akan memberikan biaya pesta (feast), yang kontribusinya disalurkan melalui balai-balai adat di desa. Pesta tradisi adat seperti itu dimaksudkan sebagai sarana untuk mensucikan benih-benih padi pusaka yang akan ditanam pada musim-musim berikutnya. Komunitas desa hutan yang umumnya berada di atas dataran tinggi atau di dataran landai perbukitan Meratus di desa Tanuhi dan Haruyan Dayak Kalimantan Selatan, secara umum menunjukkan pemakaian bahasa yang hampir memiliki kesamaan dengan suku-bangsa Banjar2, namun dalam penyebutan istilah-istilah khusus pada berbagai aktivitas religi, masih menampakkan unsur-unsur Hindu Kaharingan, sehingga sebutan Orang Meratus untuk komunitas desa hutan seperti itu juga sering digunakan (Raddam, 1994; Rafiq, 2004). Dari catatan-catatan etnologi mengenai batas-batas wilayah kebudayaan menurut hukum-hukum adat yang pernah dibuat oleh Terr Harr (Koentjaraningrat, 1985; M. Idwar Saleh, 1984), maka suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Kalimantan Selatan adalah suku-suku bangsa Lawangan, Ngaju, dan Maanyan dengan ciri-ciri ras Melayu Asia Tenggara (Malayan Mongoloid dan Austro Melanesian). Dengan begitu maka suku-suku bangsa di desa Tanuhi dan Haruyan Dayak itu kemudian didekati sebagai komunitas-komunitas dayak desa hutan yang wilayah tinggalnya juga menetap di sepanjang perbukitan meratus, di mana unsur-unsur genealoginya, melalui pendekatan socio-biology3 di dalam studi preservasi dari benda-benda artefak dan kebudayaan material suku-suku bangsa tersebut lebih cenderung menunjukkan kepada rumpun ras Melayu Asia Tenggara, terutama pada bentuk fisik, fenotipe dan genotipe, serta tinggalan budaya yang dimilikinya.

Aktivitas Kebudayaan Dan Komponen Pendukungnya
Komunitas desa hutan, melakukan aktivitas setiap harinya untuk bekerja sebagai petani dengan cara perladangan gilir-balik (shifting and swidden cultivation) dengan jenis-jenis tanaman padi dan juga jenis tanaman hortikultur seperti kacang tanah, kentang, moniac, soebean dan jenis sayuran yang cepat menghasilkan. Bercocok tanam di atas lahan tadah hujan atau lahan galangan (hoe agriculture) juga dilakukan, di samping kegiatan lain seperti ternak, menangkap ikan, berburu, meramu dan mengumpulkan hasil hutan untuk menjamin penambahan jumlah kalori bagi keperluan hidup setiap harinya. Peningkatan pendapatan ekonomi keluarga, diperoleh dengan cara menyadap karet, mengambil getah damar, mengambil kulit kayu, membuat kayu manis atau membuat barang-barang kerajinan dari bahan serat dan kayu.
Aktivitas kebudayaan dilakukan di dalam rumah balai adat yang biasanya berupa pelaksanaan upacara ritual pesta adat seperti aruh bawanang, aruh mahanyari banih, serta maksud-maksud tujuan upacara lainnya yang berhubungan dengan daur hidup. Dalam menata pola pemukiman di desa, hidup di dalam sebuah struktur sosial keluarga pedesaan yang berstratifikasi, masyarakat melaksanakan kehidupannya dengan aturan-aturan serta kebiasaan hidup dengan pranata-pranata sosial serta kelembagaan di dalam berbagai diversifikasi pada bidang-bidang pekerjaan, sambil terus berusaha untuk menjaga keseimbangan alam serta kesuburan jenis-jenis varietas tanaman yang diupayakannya.
Dalam melaksanakan aktivitas religi, peralatan upacara yang dibuat dari bahan serat dan kayu yang biasanya tersimpan di dalam rumah balai adat, memiliki berbagai bentuk dan ornamen dan dapat ditangkap sebagai sebuah simbol yang menerangkan hubungan kausalistik antara kehidupan suci di sorga dengan kehidupan profan di dunia. Berbagai bentuk tiang sandong, lalaya, dan langgatan yang juga didirikan di atas tiang dapat diinterpretasikan pemaknaannya sebagai sebuah sumbu axis mundi yang menghubungkan kehidupan suci dan profan. Melalui sumbu itu juga, dalam pelaksanaan upacara pada waktu balian dan patati membunyikan irama katambung dan dentingan gelang-gelang balian pada waktu batandik dan menari sambil mengelilingi lalaya, ditandai sebagai saat dari sebuah peristiwa turunnya roh-roh suci yang akan melindungi kehidupan di desa.
Tradisi adat lainnya, yaitu tata cara pemakaman kedua yang dilakukan dengan memarabia atau membersihkan kembali tulang-tulang orang yang sudah meninggal dunia, dan telah dikubur selama 20 tahun. Memarabia dimaksudkan untuk mensucikan kembali jasad orang yang meninggal dunia dengan upacara-upacara suci seperti tiwah dan tiwah nyorat untuk kemudian disemayamkan kembali di dalam rumah-rumah sandong, banama tingang, dan karuhe pada suku-suku bangsa Dayak di pedalaman Kalimantan. Rumah sandong dianggap sebagai peti kubur atau rumah di alam akherat, dan banama tingang serta pataho dianggap sebagai kendaraan perahu orang yang meninggalkan dunia untuk menuju ke alam akherat. Jasad orang yang meninggal dunia tersebut dikenang kembali dengan cara dibuatkan hampatong, karuhe atau baluntang dan diyakinkan bahwa rohnya akan dapat berubah menjadi unsur-unsur suitors atau divine culture yang akan menjaga kesuburan dan kesucian desa.
Sekarang ini, peristiwa-peristiwa suci seperti itu sudah mulai tidak dilakukan, karena di samping mahalnya biaya untuk pelaksanaan upacara, pengaruh ajaran agama baru (terutama Islam) dan eklektisme kebudayaan yang telah membawa perubahan pada transformasi budaya di dalam struktur sosial, serta perkembangan dari pemakaian simbol-simbol semiotik yang bertujuan menggantikan simbol-simbol dinamisme dengan stilisasi bentuk simbol yang lebih sopistikat ke dalam corak ragam hias berbentuk tanaman, telah menyebabkan tidak digunakannya lagi benda-benda artefak dari peninggalan tradisi megalitikum muda di Kalimantan. Dengan begitu, studi preservasi juga bermaksud untuk menyelamatkan kembali semua peninggalan benda-benda budaya tersebut, yang dapat digunakan sebagai suatu alat pembuktian ilmiah di dalam menentukan kurun-kurun waktu serta berbagai peristiwa budaya dalam sebuah pendekatan diakronik ilmu pengetahuan. Tujuan memberikan perlindungan tidak hanya dilakukan terhadap semua tinggalan budaya material saja, tetapi juga dilakukan dengan cara recovery untuk tujuan membangun kembali sumber-sumber daya yang dapat terbarukan. Preservasi – konservasi juga ditujukan kepada manusia dan kebudayaannya, yang meliputi hampir semua komponen kebudayaan (ethic and menthal behavior) atau dengan cara remedial, yang bertujuan memperbaiki aktivitas kebudayaan manusia di dalam menggunakan sumber-sumber alam dan lingkungan.

Pendekatan Ekosistem Pada Cara-cara Manusia Bercocok Tanam
Berburu, meramu, dan mengumpulkan makanan merupakan tahap awal dari evolusi sosial manusia sebelum diversifikasi pekerjaan. Pada tahap itu pola-pola hidup subsisten dengan cara memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri kemudian berkembang menjadi seberapa banyak jumlah kebutuhan hidup yang bisa diperoleh setiap harinya yang dimulai dari tahap reforestrations. Cara-cara hidup carrying capacity seperti itu telah menyebabkan meningkatnya jumlah kebutuhan kalori dan energi hidup yang harus dipenuhi dengan cara mengeksplorasi sumber-sumber daya alam dan hutan sehingga manusia kemudian harus hidup di dalam suatu kondisi merosotnya jumlah sumber-sumber daya alam sampai pada tingkat yang hampir tidak dapat dipulihkan kembali. Rotan, getah damar, nira, dan tengkawas merupakan hasil utama dari kegiatan berburu, meramu dan mengumpulkan makanan. Diversifikasi pekerjaan dan peningkatan jumlah populasi hidup di desa diikuti dengan usaha-usaha discovery, recovery dan invention dengan cara mengembangkan teknologi pertanian yang lebih maju berupa intensifikasi pertanian dengan sawah-sawah irrigasi air. Bersamaan dengan pertumbuhan revolusi hijau di pedesaan, jenis-jenis tanaman dan varietas padi unggulan dilembagakan untuk tujuan meningkatkan hasil pertanian dan pemenuhan kebutuhan ekonomi domestik pada masyarakat desa. Namun begitu, berladang sederhana di atas lahan kering yang ramah lingkungan, masih sanggup bertahan sampai sekarang karena terbukti bahwa cara-cara bercocok tanam tradisional seperti itu paling sesuai untuk dilakukan di Kalimantan.
Ekosistem hutan sub-tropis basah di Kalimantan Selatan terdiri dari hutan ulin, hutan gallam, dan hutan bakau. Di antara lingkungan ekosistem khusus seperti itu, binatang arboreal yang hidup di pucuk-pucuk pohon, hidup dekat air dan sungai (affarensis), jenis hewan yang berjalan dengan kekuatan lengan tangannya (fist walking animals), dan hewan lainnya telah jarang dijumpai. Kebanyakan dari hewan-hewan tersebut punah karena merosotnya daya dukung alam bagi kehidupan mereka. Hanya ada jenis species bipedalism yang dapat tetap bertahan hidup karena superioritas gen pada manusia memiliki kesanggupan untuk beradaptasi di dalam kondisi kerusakan alam; namun begitu perilaku hidup manusia yang tidak ekonomis yang cenderung melakukan perusakan dengan cara mengeksploitasi alam telah menjadikan manusia terjebak di dalam suatu kondisi diminishing returns, yang menyebabkan habisnya sumber-sumber daya alam sampai pada tingkat yang tidak dapat dipulihkan kembali. Usaha-usaha membangun daya dukung alam kemudian dilakukan dengan cara memperbaiki keseimbangan vegetasi alam dengan membagi penggunaan dari total luas lahan 2.013.600 Ha ke dalam: a) hutan pertumbuhan sakral 243.000 Ha (12 %); b) hutan produksi 1.650.600 Ha (82 %); c) hutan cadangan 40.000 Ha (2 %); serta d) daerah perlindungan dan konservasi sumber daya alam 80.000 Ha (4 %), sebagaimana yang dimaksudkan dengan pertumbuhan hidup selaras dan seimbang di antara usaha-usaha memperbaiki dan mengeksplorasi hutan, yang telah dirumuskan ke dalam tujuan proyek pembangunan Man and Biosphere, suatu proyek pembangunan yang lebih bertujuan untuk mengelola penggunaan sumber-sumber alam dan hasil hutan sebagai komoditas besar dalam skala ekspor international dengan memperhatikan pada kebutuhan hidup seimbang antara kebutuhan hidup manusia dan pelestarian lingkungan. Dalam pelaksanaan proyek ini, komunitas hidup manusia di dalam wilayah enclavement yang menjadi target pembinaan program juga telah dilibatkan dengan cara menelusuri secara progressive contextualism, dari mana sebenarnya kebutuhan hidup mendasar dari penggunaan sumber-sumber daya alam dan hutan itu berasal (Andrew P. Vayda & Rappaport; Endang Patriyunita, 1987).

Permasalahan Sosial-Budaya
Dalam permasalahan sosial-budaya yang dipahami secara hystorical particularistic, penetrasi budaya (penetration pacifique) yang telah dilalui dalam tiga tahapan globalisasi mulai dari masuknya maskapai perdagangan Hindia-Belanda dan Asia Timur Jauh (Far East Indie Trading Companny), Post Colonialism, sampai dengan Post Capitalism di Indonesia, secara historis telah menjustifikasi sebagian perilaku budaya komunitas desa hutan, dan telah memunculkan berbagai persoalan multidimensional di dalam kehidupan morfologi budayanya. Petani tradisional yang hanya memiliki pengetahuan terbatas untuk membuka pertanian lahan kering, dan yang semula hidup sebagai masyarakat egalitarian, saat ini mulai merubah orientasi hidupnya dan berusaha untuk keluar dari takdirnya yang hanya hidup sebagai petani penyewa lahan saja. Kondisi discurse yang demikian telah menyebabkan orientasi budaya dan pandangan hidup tradisional mulai berubah kepada cara-cara hidup kapitalis (stratified economizing), konversi lahan skala pertumbuhannya naik secara cepat melebihi pertumbuhan dari jenis hutan produktif, hutan cadangan, dan hutan konservasi alam – di mana usaha-usaha horticulture, crash cropt plantations, and mining corporations juga telah menjadikan lahan-lahan pertanian lebih diinginkan untuk dapat diperjual-belikan dan masuk dalam pemberlakuan aturan harga pasar. Dalam hal ini, kasus-kasus yang sering muncul adalah pada kondisi kurang cakapnya petani feodal menjaga dan memelihara lahan-lahan pertanian yang dimiliki (Dalton and Polanyi, 1963).
Sekarang ini, ada banyak kelompok kindred dalam kesatuan ekonomi domestik keluarga luas pedesaan di sepanjang perbukitan Meratus yang aktivitas kebudayaannya selalu berpusat di dalam Rumah Balai Adat Tradisional, dan harus menyediakan kebutuhan hidupnya sendiri (self sufficient products) dengan pemakaian teknologi subsisten yang cocok dengan lingkungan di dalam menata pola pemukiman di desa. Komunitas desa hutan seperti itu, telah memanfaatkan berbagai bahan serat dan kayu untuk menghasilkan peralatan hidupnya berupa benda-benda kebudayaan (artefak, ekofak, fitur, dan bangunan) yang diperoleh dari hutan tanaman produktif dengan aturan sistem adat promogenitur dan ultimogenitur melalui kepemilikan tanah-tanah hinduman atau lahan-lahan hilungan di dalam fungsi keluarga luas memberikan pengawasan terhadap pengelolaan harta produktif dan jumlah tenaga kerja yang dimiliki oleh keluarga-keluarga endogami (endogamous familly) atau juga keluarga-keluarga exogami (exogamous familly), yang memerlukan disseminasi di antara pengelolaan sumber daya budaya dengan sumber-sumber daya hutan tanaman industri yang dilaksanakan melalui kebijakan pemerintah di bidang agro-industry dan agro-forestry. Aktivitas budaya yang berhubungan dengan produksi, religi, dan keseimbangan kosmik dalam setiap komponen menthal dan perilaku budaya, melalui pemahaman kognitif simbolik dapat dipahami dari cara berpikir emik komunitas tersebut menjalankan model kearifan budaya (cultural geneous) yang secara tradisi dilaksanakan melalui adat-istiadat di dalam perilaku ekonominya (Sulaksono, 2008).

Foodnote:
1) Apanage adalah sejumlah tanah bangsawan yang pada waktu kesultanan Banjarmasin pada tahun 1960 dibubarkan oleh Belanda, kemudian dibagikan kepada pangeran-pangeran (pangerak) serta orang-orang yang dianggap pernah berjasa kepada pemerintahan kolonial (panganan dan pangiwa) untuk dikelola penggunaannya sebagai pertanian dan perkebunan (Syarifuddin, dkk., 1989).
2) Pada waktu penyebaran Islam oleh orang-orang dari kerajaan Demak dan Sriwijaya masuk ke Kalimantan Selatan, suku-suku bangsa asli yang semula merupakan rakyat dari kerajaan Daha menyatakan diri takluk di bawah pemerintahan Kesultanan Banjarmasin, dan sejak itu suku-suku bangsa asli lebih dikenal dengan sebutan suku-bangsa Banjar.
3) Pendekatan socio-biology dalam penelitian antropologi digunakan mengingat hampir tidak pernah dijumpainya lagi fosil-fosil paleoantropologi dalam periode akhir abad 19 dan permulaan abad 20, sehingga untuk menemukan hubungan genealogi di antara suku-suku bangsa yang dipelajarinya, ahli-ahli antropologi mulai mencari hubungan itu melalui mitologi-mitologi kuno yang hampir dimiliki oleh sebagian besar suku-suku bangsa di dunia.

Kearifan Tradisional
Model Kognitif Melestarikan Ekosistem Komunitas Desa Hutan

Ethnography

– Mitos Bukit Tanginau –

Komunitas desa hutan di Loksado mengenal mitos terjadinya Bukit Tanginau yang dahulu dikenal dengan nama Gunung Katinghayan pada waktu kedatangan bangsa Kaling (ras weddoid atau pygmoid di Kalimantan) yang percaya bahwa bukit (primeval mountain) itu dahulu sangat tinggi dan hampir menyentuh langit. Dari bukit itulah maka semua jenis tanaman seperti: padi, kencur, janar pidara, janar putih, bawang, dan sebagainya diturunkan ke dunia. Semua jenis tanaman tersebut tumbuh bersama ‘pohon kehidupan’ yang sekarang lebih dikenal dengan nama ‘mahligai’ yang banyak memberikan kemanfaatan bagi kehidupan manusia di dunia. Bukit Katinghayan yang seharusnya dijaga kesuciannya itu, menurut cerita pernah dicemari oleh perbuatan manusia sehingga bukit tersebut gugur (pecah) menjadi lima pancar sungai dan jenis tanaman yang ada mengering. Peristiwa yang menyebabkan kemurkaan dewa-dewa alam itu disebabkan oleh seorang putri yang sangat cantik dan menjadi rebutan pemuda di desa termasuk juga orang tuanya sendiri. Diceritakan bahwa puteri tersebut melakukan perbuatan incest dengan bapaknya sendiri di atas bukit suci dan kemudian mandi di sumur yang kemudian airnya tumpah menjadi lima buah sungai, dan sumur tersebut sampai sekarang dikenal dengan nama Tajau Darah. Kecantikan puteri Sindhunata yang sangat dikagumi para pemuda desa tersebut diabadikan menjadi nama Balai Malaris di desa Lok Lahung untuk mengingatkan orang, terutama wanita di desa agar tidak mengulang kembali perilaku puteri tersebut yang menjadi korban dari kecantikannya sendiri. Sejak peristiwa itu, penduduk desa di bukit itu harus hidup bertani dan menanam sendiri semua jenis tanaman surga dan harus selalu menjaga kesucian dari bukit-bukit yang lain dengan cara membuat pesta dan persembahan kepada dewa-dewa alam setiap tahunnya.

– Hilungan –

Berupa luas lahan tanah dilingkungan desa yang merupakan tanah paninian yang dimiliki oleh beberapa keluarga dan hanya boleh digunakan oleh keturunan keluarga melalui anak wanita. Tanah hilungan hanya boleh ditanami dengan jenis tanaman keras seperti: pohon karet (gatah), kayu manis, bambu, kuminting, dan sebagainya. Sistem pemilikan tanah hilungan pada komunitas desa hutan lebih menunjukkan kepada sistem adat ultimogenitur yang menghitung hubungan kekerabatan melalui pria maupun wanita dalam kepemilikan tanah, tetapi biasanya hanya anak wanita termuda saja yang lebih memiliki hak atas pewarisan tanah tersebut.

– Hinduman –

Berupa luas lahan dilingkungan desa yang boleh digunakan oleh beberapa keluarga dari pembagian harta kepada anak laki-laki atau anak perempuan dan dijadikan lahan produktif melalui fungsi pengawasan oleh keluarga luas. Mengenai penggunaannya boleh saja anak wanita memberikan hak penggunaannya kepada adik laki-laki atau saudara wanitanya yang belum memiliki pekerjaan. Lahan Hinduman hanya diperuntukkan bagi jenis-jenis tanaman produktif seperti: padi, gumbili, pisang, kacang tanah, kentang, dan sebagainya. Sistem adat kepimilikan tanah ini lebih menunjukkan kepada sistem adat promogenitur pada suku-suku bangsa lainnya di Indonesia. Ganti kepemilikan hanya boleh dilakukan kepada keluarga dekat dan menantu yang diberlakukan sebagai bride service. Ganti kepemilikan kepada orang luar atau keluarga pendatang tidak diperbolehkan menurut hukum adat yang berlaku. Sistem adat promogenitur menghitung hubungan kekerabatan melalui pria maupun wanita, tetapi hanya yang tertua saja yang lebih mendapatkan hak atas pewarisan tanah tersebut. Sistem adat ini sebenarnya juga merupakan fungsi pengawasan oleh keluarga luas cognatic and unileneal descent di dalam menentukan siapa yang harus melanjutkan dan menjaga ‘tutus’ atau ‘utus’ dalam hubungan kekerabatan konsentris dalam jumlah angkatan yang terbatas.

– Baarian Dan Bahandi –

Bertukar pekerjaan (bahindipan), yang dimaksud adalah mengambil upah dari cara bergotong royong di dalam keluarga yang biasanya dihitung dengan ‘gantang’ apabila dilakukan pekerjaan menugal, atau dihitung dengan uang Rp 40.000,- persetengah hari kerja untuk jenis pekerjaan membersihkan rumput atau menyiangi tanaman. Dalam kebiasaan yang berlaku maka menyadap getah diupah dengan uang dan untuk jenis tanaman padi dilakukan dengan upah pergantang. Mangaron (bagi hasil dengan cara menyewa tanah) tidak dikenal di desa Loksado karena hampir masing-masing keluarga di dalam komunitas desa hutan ini memiliki tanah sendiri. Cara penggunaan lahan yang lainnya adalah sewa-bagi hasil (bahandi), dengan cara sewa perborong atau anggar untuk ukuran depa (sebidang hektar tanah sama dengan 35 borongan). Satu borongan sama dengan 1 blek yang harus dibayarkan oleh sipenyewa sebanyak 35 blek padi kepada pemilik lahan.

– Langgatan Dan Lalaya –


Ethnography Ethnography

Simbol primeval yang menggambarkan hubungan kausalitas di antara kehidupan suci ‘alam atas’ dengan kehidupan profan di dunia manusia. Komunitas Desa Hutan meyakinkan bahwa ‘alam atas’ dilambangkan sebagai pohon kehidupan yang merupakan tempat tinggal dari dewa-dewa penguasa alam yang akan datang ke dunia manusia untuk memberikan berkah kehidupan kepada manusia berupa: rezeki, kebahagiaan, kesenangan, atau juga kesedihan. Transformasi bentuk formal pohon kehidupan dilambangkan sebagai tihang aras dalam tiga tingkatan (paludan walu). Tingkat pertama disebut Campan Nini, yaitu tempat bersemayamnya dewa-dewa tertinggi yang disebut Sanghyang Wanang; tingkat kedua berbentuk Tungkul, yaitu tempat bersemayamnya para dewa-dewa dan roh suci yang dapat mendatangkan kebahagiaan, kesedihan, rejeki, atau malapetaka kepada kehidupan manusia; tingkat ketiga berbentuk Mahligai, diyakinkan sebagai tempat tinggal atau bersemayamnya kehidupan dari roh suci (suitors) serta roh leluhur (anchestors) yang dapat memberikan kesuburan serta menjaga kemurnian ‘tutus’ keturunan dengan cara menitis kembali ke dalam rahim wanita. Dua tingkatan berikutnya di dalam tihang aras yang berbentuk langgatan (tempat bersaji) diyakinkan sebagai tempat tinggal ‘utus murni’ yang tinggal di dalam letak desa yang lebih tinggi. Anak Adam yang paling bungsu telah memberikan benih padi suci serta pengetahuan bertani kepada manusia, dan diyakinkan hidup bersama penduduk desa di puncak bukit kehidupan suci (primeval mountain). Tingkat paling bawah di dalam tihang aras yang juga berbentuk langgatan diyakinkan sebagai letak tempat tinggal manusia di dalam desa dan rumah-rumah balai desa.

– Meramalkan Peristiwa Dengan Tanda-tanda Alam –

Perhitungan Berdasarkan Arah Terbang Dan Suara Burung (Ornithomancy). Turunnya dewa-dewa dan roh suci ke dunia manusia melalui ‘mahligai’ berbentuk mahkota yang melambangkan simbol kesucian jiwa-jiwa yang terbebas dari dosa (mundanity) ini akan diberitakan oleh suara-suara burung yang dilambangkan dengan ‘burung cucurik’ yang datang dari arah empat mata angin. Irama suara kicauan burung itu, tanda-tandanya dipahami sebagai irama kebahagiaan, kesedihan, kesenangan, atau juga ketakutan untuk peristiwa-peristiwa yang akan datang kepada kehidupan profan di dunia manusia. Kedatangan dewa-dewa dan roh suci ini akan sampai kepada ‘utus murni’ golongan bangsawan di dalam stratifikasi sosial komunitas desa hutan yang tempat tinggalnya berada di tempat tertinggi dari kehidupan suci di bukit primeval (primeval mountain) yang diberkahi dengan tanah-tanah suci (hilungan) untuk disampaikan kepada masyarakat yang tinggal di desa-desa di bawah bukit yang bekerja sebagai petani di atas tanah produktif (hinduman) yang harus menjalani hidupnya bersama balian.

Perhitungan Berdasarkan Hubungan Antara Bintang (Astromancy). Semua tahapan pekerjaan di dalam bercocok tanam mulai dari: Manabas, Manyalukut dan Mamandah (membakar), Manaradak (membersihkan ladang setelah dibakar), Menyiang (membersihkan rumput dan tanaman liar), Manugal (menanam benih), sampai dengan saat benih padi Basambu (keluarnya malay padi pada waktu tanaman tumbuh setinggi 1,5 meter) dilakukan dengan cara menghitung waktu yang tepat melalui bentuk serta arah bergeraknya bintang-bintang dilangit. Komunitas desa hutan mengenali tanda-tanda alam tersebut melalui Bintang Karantika yang hanya muncul pada pagi hari saja. Pekerjaan menanam banih dan manugal hanya boleh dilakukan selama bintang tersebut masih terlihat, dan harus dihentikan pekerjaannya pada waktu bintang tersebut hilang pada siang hari. Cara ini dilakukan agar benih padi yang ditanam dapat tumbuh lebih subur.

Perhitungan Berdasarkan Tanda-tanda Yang Nampak Dalam Mimpi (Oneiromancy). Pada berbagai aktivitas kebudayaan yang lainnya maka komunitas desa hutan sangat mempercayai pada tanda-tanda yang muncul dalam mimpi untuk memulai suatu pekerjaan seperti melaksanakan aruh (upacara dan selamatan), mengambil hasil hutan, berburu, menangkap ikan, melaksanakan perkawinan, sampai dengan kapan balian, dukun, atau shaman harus mengobati penyakit.